Menguap bukanlah perkara hoh-ahem. Riset mengungkapkan bahwa sedikit saja bukti ilmiah untuk mendukung banyak pendapat populer kita tentang mengapa kita menguap, kapan kita menguap, apa fungsi menguap itu, dan keadaan-keadaan mana yang memengaruhi perubahan-perubahan dalam perilaku menguap.
Bukti menyarankan bahwa menguap dipicu keadaan psikologis yang belum diketahui. Tetapi, memang benar bahwa mengamati orang menguap dapat merangsang kita untuk menguap. Menguap dapat dipicu oleh sekadar membaca atau memikirkan tentang menguap. Terkadang kita menguap juga pada saat kita merasa ngantuk.
Menguap adalah perilaku manusia yang paling lazim dan barangkali universal. Menguap dilakukan sepanjang hidup, baik muda maupun tua. Sewaktu kita menguap, mulut akan menganga disertai dengan menghirup nafas lama-lama dan diakhiri dengan mengembuskan nafas dengan singkat.
Menguap penting untuk membuka saluran Eustachius dan untuk menyesuaikan tekanan udara di telinga tengah. Secara klinis, menguap amat penting bagi kesehatan. Menguap merupakan faktor terapeutik yang penting dalam mencegah komplikasi-komplikasi pernafasan pascabedah. Beberapa laporan melaporkan bahwa orang-orang gila jarang menguap. Sejumlah praktisi klinis menyatakan bahwa orang-orang yang menderita penyakit fisik akut tidak melakukan aktivitas menguap sampai mereka berada dalam kondisi menuju penyembuhan.
Menguap lazimnya dikaitkan dengan mengantuk atau bosan. Studi-studi menunjukkan bahwa orang cenderung menguap ketika ikut serta dalam tugas-tugas yang panjang, tidak menarik, atau bersifat berulang-ulang.
Akhir kata, mungkin saja Anda sekalian yang telah membaca artikel ini telah menguap sekurang-kurangnya satu kali selama membaca beberapa alinea terakhir ini.

0 comments:
Posting Komentar